Sabtu, 01 November 2014

Stratifikasi Sosial Petani Padi di Desa Pematang Sikek Kecamatan Rimba Melintang Kabupaten Rokan Hilir

NAMA   :MASHUDA SUNARKO
NIM        :145040100111084
KELAS   :C
PRODI    :AGRIBISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014



MODUL 6


DesaPematang Sikek berada di Kecamatan Rimba Melintang Kabupaten Rokan Hilir merupakan pemekaran dari Desa Teluk Pulau Hilir yang berada di sebelah barat. Desa ini memiliki luas 24.000.000 M2.
Jumlah penduduk Desa Pematang Sikek terhitung sejak Desember 2013, berdasarkan jenis kelamin dimana jumlah penduduk laki-laki sebanyak 1.248 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 1.250 jiwa. Data pada tahun 2012 untuk jumlah penduduk Desa Pematang Sikek dilihat dari agama yang di anut yaitu penduduk yang beragaman Islam sebanyak 2.417 jiwa, Kristen 79 jiwa dan Buddha sebanyak 2 jiwa. Masyarakat Desa Pematang Sikek kini lebih kepada sistem pertanian yang bisa di bilang sudah modern di mana untuk proses awal dalam proses menyiapkan lahan yang akan di tanami padi tidak menggunakan cangkul, menyabit rumput untuk menyiangi gulma yang memadang ataupun kerbau untuk membajak sawah tersebut gulma yang memadang di lahan akan tetapi menggunakan Herbisida agar gulma mati. Herbisida yang digunakan petani untuk gulma ini berbagai macam seperti Radiamin (DMA), Ali Plus, Rumpas, Graso, Indopos ataupun Gramoxon dan yang pastinya masih banyak lagi jenis racun gulma.
Satuan ukuran luas yang digunakan oleh petani padi di Desa Pematang Sikek masih ada yang menggunakan ukuran klasik dengan sebutan elak atau jalur. dimana 1 jalur sekitar 0,29 ha, dan 3,5 jalur sama nilainya dengan 1 ha. Sistem upah yang berlaku dalam pertanian adalah sistem harian atau borongan. Untuk membajak sawah biasanya petani mengupah dengan harga Rp. 100.000/jalur. Untuk menanam padi biasanya petani mengupah dengan harga Rp. 40.000/ hari untuk satu orang buruh tani. Sedangkan untuk memanen juga demikian, upah perhari Rp. 100.000/orang.
Penanaman padi dilakukan dua kali dalah setahun (IP 200). Penanaman pertama disebut tanam tahunan yang dilaksanakan di bulan januari tiap tahunnya dan penanaman kedua inilah disebut oleh masyarakat petani padi khususnya dengan kata ”sadon” atau juga yang lebih dikenal dengan istilah “nyadon”. Nyadon biasanya di lakukan setelah panen tanam tahunan berakhir dan dalam kurun waktu sebulan para petani vakum dari kegiatan bertani. Nyadon ini dilakukan karena meningkatnya hasil pertanian di Desa Pematang Sikek dengan menggunakan bibit varietas unggul yang diberikan pemerintah melalui program subsidi bibit. Bibit yang disubsidi sebanyak 15 kg dengan harga Rp 2.500/kg perorangnya. Untuk pupuk Poska disubsidi 50 kg seharga Rp. 115.000 per 50 kg.

Lapisan Atas di desa Pematang sikek

1) Dilihat dari Kepemilikan Lahan
Responden yang berada di lapisan atas dari jumlah petani pemilik-penggarap yang memiliki lahan sendiri jauh mengungguli jumlah petani yang menyewa lahan yaitu sekitar 94,1%. Artinya, seorang petani pemiliki-penggarap wajar saja berada di lapisan atas, karena hal ini disesuaikan dengan batasan konsep yang peneliti berikan, yang mana responden yang memiliki lahan sendiri diberi nilai tinggi di banding respnden yang menyewa lahan. Akan tetapi, ada salah satu responden petani penggarap atau rsponden yang menyewa lahan masuk dalam lapisan atas yaitu berjumlah 1 orang responden dengan persentase 5,9%.
2) Dilihat dari Luas Lahan

Tidak hanya responden yang memiliki lahan ataupun responden yang menggarap lahan ≥ 1 ha saja yang berada pada lapisan atas akan tetapi yang memiliki lahan dibawah satu hektar juga menempati lapisan atas. Responden lapisan atas yang menggarap luas lahan ≥ 1 ha 82,4% dan yang menggarap lahan seluas < 1 ha 17,6%.
3) Dilihat dari Tingkat Pendapatan

Responden yang menempati lapisan atas baik petani pemilik-penggarap maupun petani penggarap semuanya memiliki pendapatan ≥ Rp. 1.000.000/bulan, sehingga aspek pendapatan petani mempengaruhi dalam menentukan status sosial responden. Pendapatan yang diperoleh petani ini merupakan hasil pertanian padi yang responden dapatkan sehingga apabila responden memiliki lahan yang luas maka pendapatan responden akan cenderung tinggi pula begitu juga sebaliknya. Tidak hanya faktor tanah saja yang menentukan status sosial seseorang pada masyarakat pedesaan yang identik dengan masyarakat petani. Akan tetapi di Desa Pematang Sikek, pada aspek pendapatan juga dapat menentukan status sosial seseorang di dalam lingkungan sosialnya.
4) Dilihat dari Tingkat Pendidikan
Responden lapisan atas dilihat tingkat pendidikan diperoleh responden tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) lebih banyak dibanding tingkat pendidikan yang lain yaitu sekitar 41,2% dan responden yang tamatan Sekolah Dasar (SD sekitar 35,3%. Responden yang tidak tamat SD sekitar 11,8%. Sehingga apabila diakumulasikan responden lapisan atas yang berpendidikan rendah ada sekitar 88,3% dari jumlah keseluruhan responden lapisan atas. Tingkat pendidikan seseorang tidak mempengaruhi strata sosialnya.

Lapisan Bawah di Desa Pematang Sikek

1) Dilihat dari Kepemilikan Atas Lahan
Jumlah petani pemiliki-penggarap lebih banyak yaitu 67,9% dibanding petani penggarap yaitu sekitar 32,1%. Jadi, lapisan bawah ataupun kelas bawah tidak hanya digolongkan pada mereka yang menyewa lahan atau sebagai petani penggarap saja tetapi juga mereka yang memiliki lahan sendiri untuk digarap juga termasuk ke dalam lapisan bawah. lapisan bawah ataupun kelas bawah tidak hanya digolongkan pada mereka yang menyewa lahan atau sebagai petani penggarap saja tetapi juga mereka yang memiliki lahan sendiri untuk digarap juga termasuk ke dalam lapisan bawah. Petani pemilik-penggarap berada pada lapisan bawah disebabkan bukan hanya pada satu aspek ini saja pengukuran yang peneliti gunakan untuk menentukan lapisan sosial responden. Ada aspek lain lagi yang telah peneliti tentukan untuk mengukur atau menggolongkan responden pada kelas-kelas tertentu. Seharusnya dengan memiliki lahan sendiri responden tergolong pada lapisan atas, namun pada aspek-aspek lain mereka memiliki nilai rendah, seperti aspek luas lahan mereka, pandapatan, bentuk rumah dan tingkat pendidikan responden
2) Dilihat dari Luas Lahan

Aspek luas lahan yang dimiliki ataupun di sewa/digarap oleh responden berpengaruh terhadap kelas sosialnya. Bila dilihat jumlah keseluruhan responden yang memiliki lahan seluas < 1 ha sekitar 96,4% sedangkan luas lahan ≥ 1 ha hanya sekitar 3,6%. Artinya, luas lahan yang dimiliki responden lapisan bawah cenderung sedikit di mana responden lapisan bawah ini didominasi oleh responden yang memiliki luas lahan < 1 ha. Jadi, ukuran luas lahan sangat mempengaruhi dalam penempatan kelas-kelas sosial tertentu pada masyarakat petani, khususnya petani padi di Desa Pematang Sikek
3) Dilihat dari Tingkat Pendapatan

Diketahui baik responden yang sebagai petani pemilik-penggarap maupun petani penggarap yang memiliki pendapatan dari hasil pertanian < Rp 1.000.000/bulan dari hasil pertanian padi lebih besar yaitu sekitar 75,0% dibanding responden yang memiliki tingkat pendapatan ≥ Rp.1.000.000/bulan. dari hasil pertanian padi. Hal ini menandakan bahwa rata-rata tingkat pendapatan pada responden lapisan bawah tergolong rendah.

4) Dilihat dari Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan pada lapisan bawah relatif rendah di mana jumlah responden yang hanya tamatan Sekolah Dasar (SD) sangat mendominasi yaitu sekitar 60,7% responden baik itu petani pemilik-penggarap maupun petani penggarap bahkan masih saja ada yang tidak tamat SD sekitar 7,1%. Kenyataannya pendidikan tidak menempati nilai tinggi pada masyarakat petani padi di Desa Pematang Sikek. Meskipun demikian, masyarakat petani petani padi di desa ini memberikan penghargaan berupa hal yang lain bagi mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan memiliki kompetensi.

Faktor Stratifikasi di Desa Pematang Sikek
·         luas lahan
lapisan atas rata-rata memiliki luas lahan >1 hektar yang didominasi oleh petani pemilik-penggarap yaitu sebanyak 94,1%, sementara itu lapisan bawah memiliki luas lahan <1 hektar yang ditempati oleh petani penggarap dan buruh tani.
·         Pendapatn
Pendapatan adalah faktor utama pembedaan sosial di desa Pematang Sikek. Pembedaan itu didasarkan pada jumlah pendapatan warga tiap bulannya. Seseorang masuk lapisan atas bila memperoleh pendapatan >Rp.1.000.000,-/bualn dan masuk lapisan bawah jika berpendapatan <Rp.1.000.000,-/bulan. Di desa Pematang Sikek petani pemilik-penggarap berada di lapisan atas karena memilike penghasilan Rp.1.000.000,-/bulan. Sementara itu, buruh tani dan petani penggarap berada di lapisan bawah karena berpenghasilan <Rp.1.000.000,-/bulan.

·         Pendidikan
Pengaruh pendidikan tidak terlalu signifikan dalam stratifikasi sosial di desa Pematang Sikek. Namun, ada perbedaan tingkat pendidikan antara lapisan atas dan bawah. Lapisan atas berpendidikan rata-rata sampai tingkat SMP yaitu 41,2%, sementara itu, lapisan bawah berpendidikan rata-rata SD yaitu sekitar 60,7%.

Kesimpulan
Menurut saya adanya stratifikasi sosial di Desa Pematang Sikek merupakan hal yang positif karena dengan adanya stratifikasi sosial pembagian kerja antara masyarakat menjadi jelas. Lapisan bawah yang berasal dari golongan buruh tani bisa memperoleh pekerjaan dari lapisan atas dengan digaji harian ataupun borongan. Selain itu, mereka juga bisa menjadi petani penggarap lahan lapisan atas. Begitu pula sebaliknya lapisan atas lebih mudah mendapat tenaga buruh dalam membantu kegiatan pertanian mereka.
Straifikasi sosial juga bisa menjadi motivasi bagi lapisan bawah desa pematang sikek untuk bisa menyamai atau bahkan melebihi orang-orang di lapisan atas. Apalagi, perbedaan sosial di desa Pematang Sikek tidak terlalu jauh.

MODUL 7

Kegiatan ekonomi
            Mata pencaharian utama masyarakat di desa Pematang Sikek ialah di sektor pertanian dan sebagian besar adalah pertanian padi. Mereka ada yang menjadi petani pemilik-penggarap, penggarap dan buruh tani. Petani pemilik penggarap adalah petani yang mengusahakan pertanian dari lahan yang dimilikinya sendiri. Sebaliknya, petani penggarap adalah petani yang mengusahakan pertanian dengan lahan orang lain baik dengan cara menyewa maupun sistem bagi hasil. Sementara itu,  buruh tani adalah orang yang menyewakan tenaganya di sektor pertanian dengan sistem upah harian maupun borongan.
            Petani pemilik-penggarap mengusahakan pertanian dengan lahannya sendiri. Dalam usahanya, mereka memerlukan bantuan dari buruh tani yang mereka gaji harian ataupun sistem borongan. Setelah beberapa bulan meereka baru mendapatkan hasil setelah padi yang mereka tanam panen. Dari yang mereka kerjakan, kebanyakan petani pemilik penggarap memperoleh penghasilan >1 juta/bulan sehingga mereka masuk lapisan atas.
            Buruh tani bekerja pada petani pemilik-penggarap atau petani penggarap dalam kegiatan ekonomi. Sistem upah yang berlaku dalam pertanian adalah sistem harian atau borongan. Untuk membajak sawah biasanya petani mengupah dengan harga Rp. 100.000/jalur. Untuk menanam padi biasanya petani mengupah dengan harga Rp. 40.000/ hari untuk satu orang buruh tani. Sedangkan untuk memanen juga demikian, upah perhari Rp. 100.000/orang. Namun, tidak setiap hari buruh tani bisa bekerja karena mereka hanya bekerja pada waktu sibuk pertanian seperti persiapan tanam, penyiangan dan waktu panen.
                Petani penggarap mengusahakan lahan orang lain untuk petanian mereka. Dalam usaha tani, mereka juga membutuhkan bantuan buruh tani. Namun, terkadang mereka juga menjadi buruh tani disaat waktu renggang pertanian mereka. Sehingga, mereka mendapat penghasilan dari dua sumber yaitu penghasilan dari buruh tani dan pertanian mereka sendiri.

Kedudukan sosial
                Petani pemilik-penggarap memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi di masayarakat desa Pematang Sikek jika dibandingkan petani penggarap dan buruh tani. Hal tersebut dikarenakan petani pemilik penggarap memiliki pendapatan lebih tinggi dan lahan pertanian yang lebih luas. Lahan dan pendapatan seseorang merupakan hal yang paling dihargai di desa Pematang Sikek. Sehingga, orang yang memiliki lahan luas dan pendapatan tinggi akan memiliki status sosial yang lebih tinggi di masyarakat.
                Status sosial seseorang juga bisa dilihat dari tingkat partisipasi hubungan sosialnya seperti yang diungkapkan teori Horton dan Hunt yang mana semakin rendah kelas sosial seseorang, makin sedikit pula perkumpulan dan hubungan sosialnya, dan, semakin tinggi kelas sosial seseorang maka tinggi atau banyak pula perkumpulan dan hubungan sosialnya. Dalam desa pematang sikek, lapisan atas yang terdiri dari petani pemilik-penggarap memiliki tingkat partisipasi lebih tinggi dalam perkumpulan sosial seperti gotong-royong dan kelompok tani.
                Tingkat partisipasi pada lapisan atas pada kegiatan gotong royong lebih tinggi dibanding lapisan bawah. Persentase lapisan atas pada tingkat partisipasi tinggi tersebut sebanyak 11 orang responden atau sekitar 64,7% dari keseluruhan jumlah lapisan atas. Sementara itu, Tingkat partisipasi lapisan bawah dikatakan rendah terlihat bahwa keterlibatan responden dalam berpartisipasi pada kegiatan gotong royong sekitar 46,4% dari jumlah keseluruhan responden.

Kesimpulan
                Dari jurnal pada modul 6, kegiatan ekonomi yang dilakukan warga desa pematang sikek hanya berada di sektor pertanian. Mereka ada yang menjadi petani pemilik-penggarap, petani penggarap dan buruh tani. Kegiatan ekonomi lain yang dilakukan di daerah tersebut pasti ada namun tidak dijelaskan di jurnal. Jurnal hanya menjelasakan spesifik kegiatan pertanian di desa pematang sikek terutama komoditas padi yang merupakan komoditas utama di daerah tersebut.
                Kedudukan sosial di desa pematang sikek dibedakan menjadi lapisan atas dan lapisan bawah. Lapisan atas diisi oleh sebagian besar petani pemilik-penggarap karena mereka memiliki luas tanah yang cukup luas dan mengusahakan pertanian mereka sendiri. Namun ada petani penggarap yang masuk golongan atas yaitu sebanyak 5,9% dari seluruh lapisan atas, hal tersebutu bisa saja terjadi karena mungkin ada kegiatan ekonomi lain yang dilakukan petani penggarap tersebut, tetapi belum dijelaskan dalam jurnal. Sementara itu lapisan bawah diisi oleh sebagian besar petani penggarap dan buruh tani.
                Selain itu kedudukan sosial seseorang dalam masyarakat dapat dilihat dari tingkat partisipasi hubungan sosial dalam masyarakat. Di desa pematang sikek lapisan atas memiliki tingkat partisipasi lebih besar daripada lapisan bawah dalam partisipasi hubungan sosial di masyarakat desa pematang sikek, yang berupa kegiatan gotong-royong dan kelompok tani.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar