NIM :145040100111084
KELAS :C
PRODI :AGRIBISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014
MODUL
6
DesaPematang Sikek berada di Kecamatan Rimba Melintang Kabupaten Rokan Hilir
merupakan pemekaran dari Desa Teluk Pulau Hilir yang berada di sebelah barat.
Desa ini memiliki luas 24.000.000 M2.
Jumlah
penduduk Desa Pematang Sikek terhitung sejak Desember 2013, berdasarkan jenis
kelamin dimana jumlah penduduk laki-laki sebanyak 1.248 jiwa dan penduduk
perempuan sebanyak 1.250 jiwa. Data pada tahun 2012 untuk jumlah penduduk Desa
Pematang Sikek dilihat dari agama yang di anut yaitu penduduk yang beragaman
Islam sebanyak 2.417 jiwa, Kristen 79 jiwa dan Buddha sebanyak 2 jiwa.
Masyarakat Desa Pematang Sikek kini lebih kepada sistem pertanian yang bisa di
bilang sudah modern di mana untuk proses awal dalam proses menyiapkan lahan
yang akan di tanami padi tidak menggunakan cangkul, menyabit rumput untuk
menyiangi gulma yang memadang ataupun kerbau untuk membajak sawah tersebut
gulma yang memadang di lahan akan tetapi menggunakan Herbisida agar gulma mati.
Herbisida yang digunakan petani untuk gulma ini berbagai macam seperti Radiamin
(DMA), Ali Plus, Rumpas, Graso, Indopos ataupun Gramoxon dan yang pastinya
masih banyak lagi jenis racun gulma.
Satuan
ukuran luas yang digunakan oleh petani padi di Desa Pematang Sikek masih ada
yang menggunakan ukuran klasik dengan sebutan elak atau jalur. dimana 1 jalur
sekitar 0,29 ha, dan 3,5 jalur sama nilainya dengan 1 ha. Sistem upah yang
berlaku dalam pertanian adalah sistem harian atau borongan. Untuk membajak
sawah biasanya petani mengupah dengan harga Rp. 100.000/jalur. Untuk menanam
padi biasanya petani mengupah dengan harga Rp. 40.000/ hari untuk satu orang
buruh tani. Sedangkan untuk memanen juga demikian, upah perhari Rp.
100.000/orang.
Penanaman
padi dilakukan dua kali dalah setahun (IP 200). Penanaman pertama disebut tanam
tahunan yang dilaksanakan di bulan januari tiap tahunnya dan penanaman kedua
inilah disebut oleh masyarakat petani padi khususnya dengan kata ”sadon” atau
juga yang lebih dikenal dengan istilah “nyadon”. Nyadon biasanya
di lakukan setelah panen tanam tahunan berakhir dan dalam kurun waktu sebulan
para petani vakum dari kegiatan bertani. Nyadon ini dilakukan karena
meningkatnya hasil pertanian di Desa Pematang Sikek dengan menggunakan bibit
varietas unggul yang diberikan pemerintah melalui program subsidi bibit. Bibit
yang disubsidi sebanyak 15 kg dengan harga Rp 2.500/kg perorangnya. Untuk pupuk
Poska disubsidi 50 kg seharga Rp. 115.000 per 50 kg.
Lapisan
Atas di desa Pematang sikek
1) Dilihat dari Kepemilikan
Lahan
Responden yang berada di lapisan
atas dari jumlah petani pemilik-penggarap yang memiliki lahan sendiri jauh
mengungguli jumlah petani yang menyewa lahan yaitu sekitar 94,1%. Artinya,
seorang petani pemiliki-penggarap wajar saja berada di lapisan atas, karena hal
ini disesuaikan dengan batasan konsep yang peneliti berikan, yang mana
responden yang memiliki lahan sendiri diberi nilai tinggi di banding respnden
yang menyewa lahan. Akan tetapi, ada salah satu responden petani penggarap atau
rsponden yang menyewa lahan masuk dalam lapisan atas yaitu berjumlah 1 orang
responden dengan persentase 5,9%.
2) Dilihat dari Luas Lahan
Tidak hanya responden yang memiliki
lahan ataupun responden yang menggarap lahan ≥ 1 ha saja yang berada pada
lapisan atas akan tetapi yang memiliki lahan dibawah satu hektar juga menempati
lapisan atas. Responden lapisan atas yang menggarap luas lahan ≥ 1 ha 82,4% dan
yang menggarap lahan seluas < 1 ha 17,6%.
3) Dilihat dari Tingkat
Pendapatan
Responden yang
menempati lapisan atas baik petani pemilik-penggarap maupun petani penggarap
semuanya memiliki pendapatan ≥ Rp. 1.000.000/bulan, sehingga aspek pendapatan
petani mempengaruhi dalam menentukan status sosial responden. Pendapatan yang
diperoleh petani ini merupakan hasil pertanian padi yang responden dapatkan
sehingga apabila responden memiliki lahan yang luas maka pendapatan responden
akan cenderung tinggi pula begitu juga sebaliknya. Tidak hanya faktor tanah
saja yang menentukan status sosial seseorang pada masyarakat pedesaan yang
identik dengan masyarakat petani. Akan tetapi di Desa Pematang Sikek, pada
aspek pendapatan juga dapat menentukan status sosial seseorang di dalam
lingkungan sosialnya.
4) Dilihat dari Tingkat
Pendidikan
Responden lapisan atas
dilihat tingkat pendidikan diperoleh responden tamatan Sekolah Menengah Pertama
(SMP) lebih banyak dibanding tingkat pendidikan yang lain yaitu sekitar 41,2%
dan responden yang tamatan Sekolah Dasar (SD sekitar 35,3%. Responden yang
tidak tamat SD sekitar 11,8%. Sehingga apabila diakumulasikan responden lapisan
atas yang berpendidikan rendah ada sekitar 88,3% dari jumlah keseluruhan
responden lapisan atas. Tingkat pendidikan seseorang tidak mempengaruhi strata
sosialnya.
Lapisan
Bawah di Desa Pematang Sikek
1) Dilihat dari Kepemilikan Atas
Lahan
Jumlah petani pemiliki-penggarap
lebih banyak yaitu 67,9% dibanding petani penggarap yaitu sekitar 32,1%. Jadi,
lapisan bawah ataupun kelas bawah tidak hanya digolongkan pada mereka yang
menyewa lahan atau sebagai petani penggarap saja tetapi juga mereka yang
memiliki lahan sendiri untuk digarap juga termasuk ke dalam lapisan bawah.
lapisan bawah ataupun kelas bawah tidak hanya digolongkan pada mereka yang
menyewa lahan atau sebagai petani penggarap saja tetapi juga mereka yang
memiliki lahan sendiri untuk digarap juga termasuk ke dalam lapisan bawah.
Petani pemilik-penggarap berada pada lapisan bawah disebabkan bukan hanya pada
satu aspek ini saja pengukuran yang peneliti gunakan untuk menentukan lapisan
sosial responden. Ada aspek lain lagi yang telah peneliti tentukan untuk
mengukur atau menggolongkan responden pada kelas-kelas tertentu. Seharusnya
dengan memiliki lahan sendiri responden tergolong pada lapisan atas, namun pada
aspek-aspek lain mereka memiliki nilai rendah, seperti aspek luas lahan mereka,
pandapatan, bentuk rumah dan tingkat pendidikan responden
2) Dilihat dari Luas Lahan
Aspek luas lahan yang dimiliki
ataupun di sewa/digarap oleh responden berpengaruh terhadap kelas sosialnya.
Bila dilihat jumlah keseluruhan responden yang memiliki lahan seluas < 1 ha
sekitar 96,4% sedangkan luas lahan ≥ 1 ha hanya sekitar 3,6%. Artinya, luas
lahan yang dimiliki responden lapisan bawah cenderung sedikit di mana responden
lapisan bawah ini didominasi oleh responden yang memiliki luas lahan < 1 ha.
Jadi, ukuran luas lahan sangat mempengaruhi dalam penempatan kelas-kelas sosial
tertentu pada masyarakat petani, khususnya petani padi di Desa Pematang Sikek
3) Dilihat dari Tingkat
Pendapatan
Diketahui baik
responden yang sebagai petani pemilik-penggarap maupun petani penggarap yang
memiliki pendapatan dari hasil pertanian < Rp 1.000.000/bulan dari hasil
pertanian padi lebih besar yaitu sekitar 75,0% dibanding responden yang
memiliki tingkat pendapatan ≥ Rp.1.000.000/bulan. dari hasil pertanian padi.
Hal ini menandakan bahwa rata-rata tingkat pendapatan pada responden lapisan
bawah tergolong rendah.
4) Dilihat dari Tingkat
Pendidikan
Tingkat pendidikan pada
lapisan bawah relatif rendah di mana jumlah responden yang hanya tamatan
Sekolah Dasar (SD) sangat mendominasi yaitu sekitar 60,7% responden baik itu
petani pemilik-penggarap maupun petani penggarap bahkan masih saja ada yang
tidak tamat SD sekitar 7,1%. Kenyataannya pendidikan tidak menempati nilai
tinggi pada masyarakat petani padi di Desa Pematang Sikek. Meskipun demikian,
masyarakat petani petani padi di desa ini memberikan penghargaan berupa hal
yang lain bagi mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan memiliki kompetensi.
Faktor
Stratifikasi di Desa Pematang Sikek
·
luas lahan
lapisan
atas rata-rata memiliki luas lahan >1 hektar yang didominasi oleh petani
pemilik-penggarap yaitu sebanyak 94,1%, sementara itu lapisan bawah memiliki
luas lahan <1 hektar yang ditempati oleh petani penggarap dan buruh tani.
·
Pendapatn
Pendapatan
adalah faktor utama pembedaan sosial di desa Pematang Sikek. Pembedaan itu
didasarkan pada jumlah pendapatan warga tiap bulannya. Seseorang masuk lapisan
atas bila memperoleh pendapatan >Rp.1.000.000,-/bualn dan masuk lapisan
bawah jika berpendapatan <Rp.1.000.000,-/bulan. Di desa Pematang Sikek
petani pemilik-penggarap berada di lapisan atas karena memilike penghasilan
Rp.1.000.000,-/bulan. Sementara itu, buruh tani dan petani penggarap berada di
lapisan bawah karena berpenghasilan <Rp.1.000.000,-/bulan.
·
Pendidikan
Pengaruh
pendidikan tidak terlalu signifikan dalam stratifikasi sosial di desa Pematang
Sikek. Namun, ada perbedaan tingkat pendidikan antara lapisan atas dan bawah.
Lapisan atas berpendidikan rata-rata sampai tingkat SMP yaitu 41,2%, sementara
itu, lapisan bawah berpendidikan rata-rata SD yaitu sekitar 60,7%.
Kesimpulan
Menurut
saya adanya stratifikasi sosial di Desa Pematang Sikek merupakan hal yang
positif karena dengan adanya stratifikasi sosial pembagian kerja antara
masyarakat menjadi jelas. Lapisan bawah yang berasal dari golongan buruh tani
bisa memperoleh pekerjaan dari lapisan atas dengan digaji harian ataupun
borongan. Selain itu, mereka juga bisa menjadi petani penggarap lahan lapisan
atas. Begitu pula sebaliknya lapisan atas lebih mudah mendapat tenaga buruh
dalam membantu kegiatan pertanian mereka.
Straifikasi
sosial juga bisa menjadi motivasi bagi lapisan bawah desa pematang sikek untuk
bisa menyamai atau bahkan melebihi orang-orang di lapisan atas. Apalagi,
perbedaan sosial di desa Pematang Sikek tidak terlalu jauh.
MODUL 7
Kegiatan
ekonomi
Mata pencaharian
utama masyarakat di desa Pematang Sikek ialah di sektor pertanian dan sebagian
besar adalah pertanian padi. Mereka ada yang menjadi petani pemilik-penggarap,
penggarap dan buruh tani. Petani pemilik penggarap adalah petani yang
mengusahakan pertanian dari lahan yang dimilikinya sendiri. Sebaliknya, petani
penggarap adalah petani yang mengusahakan pertanian dengan lahan orang lain
baik dengan cara menyewa maupun sistem bagi hasil. Sementara itu, buruh tani adalah orang yang menyewakan
tenaganya di sektor pertanian dengan sistem upah harian maupun borongan.
Petani pemilik-penggarap mengusahakan pertanian dengan
lahannya sendiri. Dalam usahanya, mereka memerlukan bantuan dari buruh tani
yang mereka gaji harian ataupun sistem borongan. Setelah beberapa bulan meereka
baru mendapatkan hasil setelah padi yang mereka tanam panen. Dari yang mereka
kerjakan, kebanyakan petani pemilik penggarap memperoleh penghasilan >1
juta/bulan sehingga mereka masuk lapisan atas.
Buruh tani bekerja pada petani pemilik-penggarap atau
petani penggarap dalam kegiatan ekonomi. Sistem upah yang berlaku dalam pertanian adalah sistem harian
atau borongan. Untuk membajak sawah biasanya petani mengupah dengan harga Rp.
100.000/jalur. Untuk menanam padi biasanya petani mengupah dengan harga Rp.
40.000/ hari untuk satu orang buruh tani. Sedangkan untuk memanen juga
demikian, upah perhari Rp. 100.000/orang. Namun, tidak setiap hari buruh tani
bisa bekerja karena mereka hanya bekerja pada waktu sibuk pertanian seperti
persiapan tanam, penyiangan dan waktu panen.
Petani
penggarap mengusahakan lahan orang lain untuk petanian mereka. Dalam usaha
tani, mereka juga membutuhkan bantuan buruh tani. Namun, terkadang mereka juga
menjadi buruh tani disaat waktu renggang pertanian mereka. Sehingga, mereka
mendapat penghasilan dari dua sumber yaitu penghasilan dari buruh tani dan
pertanian mereka sendiri.
Kedudukan sosial
Petani pemilik-penggarap memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi di
masayarakat desa Pematang Sikek jika dibandingkan petani penggarap dan buruh
tani. Hal tersebut dikarenakan petani pemilik penggarap memiliki pendapatan
lebih tinggi dan lahan pertanian yang lebih luas. Lahan dan pendapatan
seseorang merupakan hal yang paling dihargai di desa Pematang Sikek. Sehingga,
orang yang memiliki lahan luas dan pendapatan tinggi akan memiliki status
sosial yang lebih tinggi di masyarakat.
Status
sosial seseorang juga bisa dilihat dari tingkat partisipasi hubungan sosialnya
seperti yang diungkapkan teori Horton dan Hunt yang mana semakin rendah
kelas sosial seseorang, makin sedikit pula perkumpulan dan hubungan sosialnya,
dan, semakin tinggi kelas sosial seseorang maka tinggi atau banyak pula
perkumpulan dan hubungan sosialnya. Dalam desa pematang sikek, lapisan atas
yang terdiri dari petani pemilik-penggarap memiliki tingkat partisipasi lebih
tinggi dalam perkumpulan sosial seperti gotong-royong dan kelompok tani.
Tingkat
partisipasi pada lapisan atas pada kegiatan gotong royong lebih tinggi dibanding
lapisan bawah. Persentase lapisan atas pada tingkat partisipasi tinggi tersebut
sebanyak 11 orang responden atau sekitar 64,7% dari keseluruhan jumlah lapisan
atas. Sementara itu, Tingkat partisipasi lapisan bawah dikatakan rendah
terlihat bahwa keterlibatan responden dalam berpartisipasi pada kegiatan gotong
royong sekitar 46,4% dari jumlah keseluruhan responden.
Kesimpulan
Dari jurnal pada modul 6, kegiatan ekonomi yang dilakukan warga desa
pematang sikek hanya berada di sektor pertanian. Mereka ada yang menjadi petani
pemilik-penggarap, petani penggarap dan buruh tani. Kegiatan ekonomi lain yang
dilakukan di daerah tersebut pasti ada namun tidak dijelaskan di jurnal. Jurnal
hanya menjelasakan spesifik kegiatan pertanian di desa pematang sikek terutama
komoditas padi yang merupakan komoditas utama di daerah tersebut.
Kedudukan
sosial di desa pematang sikek dibedakan menjadi lapisan atas dan lapisan bawah.
Lapisan atas diisi oleh sebagian besar petani pemilik-penggarap karena mereka
memiliki luas tanah yang cukup luas dan mengusahakan pertanian mereka sendiri.
Namun ada petani penggarap yang masuk golongan atas yaitu sebanyak 5,9% dari
seluruh lapisan atas, hal tersebutu bisa saja terjadi karena mungkin ada
kegiatan ekonomi lain yang dilakukan petani penggarap tersebut, tetapi belum
dijelaskan dalam jurnal. Sementara itu lapisan bawah diisi oleh sebagian besar
petani penggarap dan buruh tani.
Selain
itu kedudukan sosial seseorang dalam masyarakat dapat dilihat dari tingkat
partisipasi hubungan sosial dalam masyarakat. Di desa pematang sikek lapisan
atas memiliki tingkat partisipasi lebih besar daripada lapisan bawah dalam
partisipasi hubungan sosial di masyarakat desa pematang sikek, yang berupa
kegiatan gotong-royong dan kelompok tani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar